Banyak pihak yang agak terkejut dengan pemanggilan punggawa Tim Nasional U19, Evan Dimas dan Maldini Pali ke Tim Nasional senior yang akan dipersiapkan untuk AFF Cup 2014. Kedua pemain ini memang pemain kunci dari Tim Nasional U19 yang membawa mereka melaju sampai babak utama Piala Asia U19. Khusus untuk Evan Dimas, ia adalah kapten dan motor penggerak dari Tim Nasional U19. Redaksi akan coba membahas perjalanan Evan Dimas di Timnas U19, khususnya di Piala Asia U19 kemarin.
Kisah Evan Dimas mulai membahana seantero negeri kala ia sebagai kapten tim membawa timnas U19 menjuarai AFF Youth Championship 2013 yang dimainkan di kandang sendiri tepatnya di kota Sidoarjo. Kemenangan demi kemenangan diraih sampai akhirnya menjadi juara dengan mengalahkan Vietnam di final lewat drama adu penalti. Di adu penalti ini, penalti Evan Dimas gagal sebenarnya, beruntung tidak sampai menentukan hasil pertandingan.
Kegagalan mencetak gol lewat penalti tidak menjatuhkan kepercayaan diri Evan Dimas di turnamen selanjutnya. Ia tetap menjadi pemimpin rekan-rekannya di lapangan dari sisi teknis maupun psikologis. Kualitas teknik yang ia miliki menjadikan ia penggerak roda permainan. Dia juga cukup vokal memotivasi rekan-rekannya di dalam lapangan.
Alhasil, dia pun menjadi bintang di kualifikasi AFC Youth Championship. Di pertandingan terakhir dia mencetak hattrick yang membawa Indonesia lolos ke babak utama. Banyak pihak yang mengagungkan permainnya saat melawan Korea Selatan tersebut.
Di Piala Asia U19 2014, pemain yang baru menginjak usia 19 tahun di bulan Maret tahun ini pun, tampil sangat dominan. Walaupun timnas hancur lebur di tangan lawan mereka di grup B, Evan Dimas tetap lebih menonjol dibandingkan dengan pemain lain.
Dalam tiga pertandingan tersebut, Evan Dimas bermain full 270 menit. Ada hanya tiga pemain lain yang bermain full yaitu Hansamu Yama, Fachtu Rohman dan M. Sahrul, dimana ketiganya berposisi sebagai defender.
Peran pemuda kelahiran Surabaya ini pun, bermain sangat imbang antara bertahan dan menyerang. 22 aksi ofensif dilakukan hasil dari 5 kali percobaan dan 17 kali dribel selama 3 laga. Dia adalah pemain yang paling banyak melakukan percobaan, sedangkan jumlah dribelnya hanya kalah dari Ilham Udin (19 kali dribel). Dari sisi defensif Evan melakukan 20 aksi.
Hal yang paling menonjol dari Evan Dimas adalah kemampuannya daya jelajahnya yang tinggi dan mengontrol permainan tim. Kemampuan dia menjalankan peran box-to-box ditambah pentrasi yang baik di final third sangat terlihat dibandingkan pemain tengah lainnya. Kemampuannya itu, seperti banyak pundit TV sering bicarakan, mengingatkan kita pada sosok Fachry Husaini atau Ansyari Lubis di era 90-an.
Secara total dia menerima operan sebanyak 160 kali dari teammate-nya selama turnamen dan 170 kali berhasil ia distribusikan lagi dalam bentuk umpan. Hal lain yang menjadi keistimewaan dari Evan Dimas adalah akurasi dari operan yang ia lepaskan. Akurasi operan Evan mencapai 90% di 3 laga itu yang didominasi operan pendek dengan jumlah sukses mencapai 136 kali.
Dengan permainan yang dia tunjukkan dengan melebihi kapasitas pemain yang berada pada level usianya, pemanggilan Evan Dimas adalah sesuatu yang wajar. Memberikan kesempatan berlatih dan bermain dengan pemain yang lebih senior akan membantu menaikkan kualitas teknik dan non-teknik dari pemain muda. Semoga Evan Dimas mampu membuktikan kualitas yang dia punya di level senior dan mampu membawa Indonesia menjadi juara di AFF Cup 2014. (Berapa Berapa)
via Bolaindo.com | Berita Bola Indonesia Terlengkap http://www.bolaindo.com/2014/10/23/evan-dimas-darmono-masa-depan-timnas-indonesia/



0 comments:
Post a Comment